SMA Islam Terpadu Wahdah Islamiyah Makassar : adalah Sekolah Menengah Atas, bernaung di bawah Dinas Pendidikan Nasional yang memadukan sistem kurikulum nasional dan kurikulum lokal berbasis agama Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Hadist dengan pemahaman salaf serta memiliki keunggulan dengan memisahkan lokasi belajar untuk putra dan putri. Dengan meraih predikat akreditasi "A" dari Badan Akreditasi Sekolah dan Madrasah pada tahun 2016 akan terus berinovasi dalam membina dan mendidik siswa-siswi agar menjadi generasi muda yang berahklak mulia dan berprestasi

Sekolah Putra : Jl. Manggala Raya, kompleks Bambu-bambu, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90234
Sekolah Putri : Jl. Antang Raya No.48, Antang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90234
SELAMAT KEPADA SISWA YANG LULUS SNMPTN-SBMPTN 2019

24 Agustus 2018

Jiwa Yang Merdeka

Dalam konteks individu, kemerdekaan berarti terbebasnya seseorang dari tekanan hawa nafsunya dalam melakukan segala aktifitasnya. Menurut DR. Ing. Fahmi Amhar (Arti Kemerdekaan Hakiki dalam Perspektif Islam, 2001), individu yang merdeka ialah seorang yang ketika ia bersikap dan berprilaku akan selalu didasarkan kepada pertimbangan rasional. Bagi orang yang beriman, pertimbangan rasionalnya adalah ketika ia menyandarkan segala perbuatannya kepada aturan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Jika ada seorang manusia dalam kehidupannya senantiasa dikendalikan hawa nafsu, berarti dia belum menjadi orang merdeka yang sebenarnya. Meskipun ia bukan seorang budak dan hidup di sebuah masyarakat dan negara merdeka. Karena ia terbelenggu oleh hawa nafsunya yang senantiasa memaksanya untuk melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan akal sehatnya. Kehidupannya selalu terjajah oleh hawa nafsunya sendiri sehingga mengakibatkan terjerumusnya ia ke jurang kebinasaan baik di dunia maupun di akhirat.

"Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya)". (QS. An-Naazi'aat: 37-39).

Hati yang peka akan cukup merasakan kelapangan saat jiwa yang dibersamainya dalam kondisi merdeka, yaitu ketika jiwa sedang tunduk sepenuhnya kepada Allah saja (bertauhid).

"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya.." (QS. Al-Mu'min: 14)

Tauhid secara syari'at adalah mengesakan Allah Ta'ala dalam beribadah, yaitu menjadikan seluruh ibadah dan ketaatan hanya untuk Allah Ta'ala semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.

Murninya kondisi merdeka satu jiwa semurni kondisi tauhid seorang hamba kepada Allah. Kondisi ini didapatkan ketika jiwa dan segenap raga full taat pada aturan hidup yang Allah tetapkan dalam Qur'an dan Sunnah.

Semakin bertauhid, semakin merdeka. Semakin lapang dan aman pula yang akan dirasakan jiwa. Dan ini adalah realita yang pasti berlakunya dalam kehidupan manusia. Allah telah menjaminkannya.

"Orang-orang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk." (QS. Al-An'am: 82)

Sebaliknya, bertambahnya jenis dan intensitas pelanggaran terhadap aturan hidup yang telah Allah tetapkan (read: bertambah dosa) akan mengeruhkan tauhid seorang hamba. Ini membawa seseorang pada kondisi jiwa yang tidak sepenuhnya merdeka. Maka menjadi sempit dan gelisahlah kehidupannya.

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit,.." (QS. Thaha: 124)

Satu hal lagi...

Membaiknya kondisi tauhid seseorang akan membuat jiwa dan raganya betul-betul merdeka dari arus pengaruh manusia yang ingin menguasai atau mengendalikan kehidupannya. Ia akan menjadi pribadi yang tidak mudah terpengaruh hal yang buruk oleh manusia dan gaya hidup non-islami. Tidak juga ragu untuk melangkah menapaki hari-harinya di dunia.

Semoga kitalah manusia pemilik jiwa yang merdeka itu.

Heldiana Pahenna