SMA Islam Terpadu Wahdah Islamiyah Makassar : adalah Sekolah Menengah Atas, bernaung di bawah Dinas Pendidikan Nasional yang memadukan sistem kurikulum nasional dan kurikulum lokal berbasis agama Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Hadist dengan pemahaman salaf serta memiliki keunggulan dengan memisahkan lokasi belajar untuk putra dan putri. Dengan meraih predikat akreditasi "A" dari Badan Akreditasi Sekolah dan Madrasah pada tahun 2016 akan terus berinovasi dalam membina dan mendidik siswa-siswi agar menjadi generasi muda yang berahklak mulia dan berprestasi

Sekolah Putra : Jl. Manggala Raya, kompleks Bambu-bambu, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90234
Sekolah Putri : Jl. Antang Raya No.48, Antang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90234
PENGUMUMAN KELULUSAN 2019 SMAIT WAHDAH ISLAMIYAH

04 Juni 2018

Finalis Ramadhan


Perputaran waktu memang tidak pernah berhenti. Demikian pula nikmat Allah yang masih diberikan kepada segenap manusia, sehingga masih dapat bersua dengan bulan keagungan, bulan Ramadan. Bulan yang tidak pernah bosan mengucurkan berkahnya. Bulan yang dinanti oleh semua muslim. 
Ramadan atau bulan puasa hakikatnya adalah sebuah madrasah atau training centre. Bulan yang mengharuskan kita berpuasa sebulan penuh ini sebenarnya  telah menyimpan niat untuk kita. Niat Ramadan itu telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan dalam Alquran pada surah Al Baqarah: 183 “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Madrasah ini  ternyata berniat menjadikan kita menjadi insan yang bertakwa dalam segala hal, di semua musim, dan di setiap tempat. Oleh karena itu, jika pada Ramadan tahun ini, Pencipta Alam Semesta masih mengizinkan kita menghirup aroma Ramadan, luruskanlah selalu niat kita untuk mencari rido-Nya. “Sesungguhnya amal itu bergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan hal yang diniatkannya” (HR Bukhari Muslim).
Seperti yang banyak kita lihat, kebaikan begitu mudah dilakukan pada bulan ini. Selain memang karena iblis cs dibelenggu, dosa-dosa diampuni, juga karena nilai amalan itu akan dilipatgandakan melebihi nilai amalan pada bulan-bulan lain. Orang jadi lebih mudah bersedekah, masjid menjadi hidup, lantunan Alquran terdengar di berbagai tempat, salat subuh pun yang biasanya hanya satu saf menjadi empar hingga lima saf, jarang lagi dijumpai kata-kata keji dan gosip. Itulah Ramadan, begitu semarak. Karena itu pulalah, ulama terdahulu, jauh sebelum Ramadan, enam bulan sebelum Ramadan, mereka telah berdoa “Ya Allah pertemukan kami dengan bulan Ramadan”.
Begitu banyak nilai tarbiah di bulan ini. Selicik apa pun orang yang memasuki madrasah Ramadan (berpuasa), ia tidak akan mungkin minum secara sembunyi-sembunyi meskipun haus yang menderanya begitu hebat karena ia takut puasanya itu akan sia-sia. Ia tentu ingin puasanya menghasilkan pahala dan dosanya diampuni. Nilai penting puasa di sini adalah murokabatullah, yaitu merasa diawasi oleh Allah Subahanu wa Ta’ala. Hal ini jika dilaksanakan dengan ikhlas dan serius bisa membentuk pribadi yang jujur, pelajar/mahasiswa yang jujur, (tidak menyontek) sehingga pengawas tidak lagi dibutuhkan dalan ujian.  Sangat mungkin pula pada suatu saat nanti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibubarkan karena tidak ada lagi orang yang diam-diam atau secara sembunyi-sembunyi menggelapkan uang negara. Manusia telah sadar bahwa Allah Subahanu wa Ta’ala selalu mengawasinya, sehingga ia berupaya untuk tetap konsisten menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjadi insan yang bertakwa. Sebagaimana penjelasan Abdullah bin Mas’ud radiallahu ‘anhu takwa adalah “Hendaknya engkau menaati Allah sesuai dengan petunujuk Allah dan mengharap pahala dari Allah dan hendaknya engkau meninggalkan maksiat sesuai petunjuk Allah karena engkau takut azab Allah”.
Nilai lain yang juga sangat dalam Ramadan adalah ikhlas. Orang salat, puasa, bersedekah, berzakat, atau berhaji tentu menginginkan pahala dari semua itu sehingga mau tidak mau ia harus ikhlas dalam melaksanakan semua itu hanya untuk Allah Subahanu wa Ta’ala, bukan karena ria’, sum’ah, ujub, dan sebagainya. Jika nilai ini tertanam kuat dalam diri seseorang, dia akan memiliki etos kerja yang kuat dan baik. Siswa finalis Ramadan akan berusaha ikhlas mengikuti pelajaran, datang dengan harapan memperoleh ilmu yang bermanfaat, tidak mencaci gurunya, tidak merendahkan teman, dan tentu belajar dengan penuh kesungguhan.
Selanjutnya, nilai disiplin. Ramadan mengajarakan kita menjadi pribadi yang menghargai waktu secara pantas. Selayaknyalah, sebagai orang yang beriman dan mengharapkan surga Allah Subhanahu wa Ta’ala kita tidak lagi menunda-nunda waktu salat karena salat di awal waktu lebih utama, tidak lagi salat sendiri di rumah karena salat berjamaah  di masjid lebih bernilai. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan nilai yang lebih tinggi 25/27 derajat bagi orang yang salat berjamaah di masjid apalagi jika berdiri pada saf pertama dan berada di bulan Ramadan. Karena mengharap rido Allah Subhanahu wa Ta’ala pulalah, seorang ulama tabiin, Siad bin Musayyab selama dua puluh tahun komitmen tidak pernah meninggalkan saf pertama salat berjamaah di masjid. Nah, kalau kita mengharapkan pahala yang jauh lebih besar, mengapa tidak berjamaah di masjid? Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam pun mengajarkan kita untuk segera berbuka ketika waktunya telah masuk, jangan menunda hingga malam tiba. Rasulullah bersabda “Dien ini akan senatiasa jaya selama umatnya menyegerakan berbuka karena Yahudi dan Nasrani selalu menunda-nunda berbuka” (HR Abu Daud).
Terakhir, Ramadan melatih kita untuk bersabar dan peka terhadap kondisi orang lain (empati). Sehari penuh selama bulan Ramadan, kita dilarang untuk makan, minum, dan berhubungan suami istri padahal semua itu adalah halal. Allah ingin menjadikan kita pribadi yang sabar menunggu dan melalui proses demi proses menuju cahaya ketakwaan sebagaimana ulat yang menjijikkan pun harus berpuasa agar dapat menjadi kupu-kupu yang indah. Puasa mengajari kita untuk merasakan lapar seperti orang-orang miskin yang tidak menentu makanan mereka sehingga dengan ini, kepekaan sosial kita akan terlatih untuk merasakan dan berbagi dengan orang lain yang tidak dititipi harta yang lebih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan ini, akan memudahkan kita untuk berbagi dengan sesama. Bayangkanlah, rasakanlah, bagaimana saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, dan sebagian daerah Afrika yang kesulitan, bahkan bingung dengan apa kiranya hendak berbuka.
Inilah di antara nilai-nilai yang diharapkan terinternalisasi dalam diri para finalis madrasah Ramadan. Semoga kita pun termasuk orang beruntung memilikinya, meraih ketakwaan, dan selalu meningkatkan kapasitas diri menjadi muslim yang seutuhnya, muslim kaffah. Semoga setelah Ramadhan yang mulia ini pergi, kita bisa tetap eksis dengan nilai-nilai mulainya dalam ibadah ritual dan sosial kita, sehingga kita bisa menjadikan hari-hari kita di bumi ini ibarat Ramadhan sepanjang masa, sepanjang hayat.


Oleh: Ruslan