SMA Islam Terpadu Wahdah Islamiyah Makassar : adalah Sekolah Menengah Atas, bernaung di bawah Dinas Pendidikan Nasional yang memadukan sistem kurikulum nasional dan kurikulum lokal berbasis agama Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Hadist dengan pemahaman salaf serta memiliki keunggulan dengan memisahkan lokasi belajar untuk putra dan putri. Dengan meraih predikat akreditasi "A" dari Badan Akreditasi Sekolah dan Madrasah pada tahun 2016 akan terus berinovasi dalam membina dan mendidik siswa-siswi agar menjadi generasi muda yang berahklak mulia dan berprestasi

Sekolah Putra : Jl. Manggala Raya, kompleks Bambu-bambu, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90234
Sekolah Putri : Jl. Antang Raya No.48, Antang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90234
PENGUMUMAN KELULUSAN 2019 SMAIT WAHDAH ISLAMIYAH

17 April 2018

Rumah Sakit dalam Sejarah Islam


Rumah Sakit dalam Sejarah Islam
(Serial Kegemilangan Peradaban Islam)

DR. Musthafa As-Siba’i dalam bukunya yang berjudul “Min Rawa’i Hadharatina”, menyebutkan bahwa jumlah rumah sakit Islam (di masa kejayaan Islam) sangat banyak, memenuhi desa dan ibu kota. Ketika itu, tidak ada satu pun di Dunia Islam yang tidak ada rumah sakitnya. Di Cordoba saja pada waktu itu ada lima puluh rumah sakit.

Jenis rumah sakit bermacam-macam. Ada rumah sakit tentara, rumah sakit untuk para tahanan, ada pos-pos  pelayanan kesehatan yang didirikan di sekitar masjid dan tempat-tempat umum yang didapati manusia. Al-Maqrizi menceritakan bahwa ketika Ibnu Thulun selesai membangun masjidnya yang terkenal di Mesir, dia kemudian membangun apotek yang terdapat aneka ragam sirup dan obat-obatan. Di apotek tesebut ada petugas dan dokter yang membuka praktik setiap hari Jumat untuk mengobati orang shalat yang terkena penyakit.

Ada juga rumah sakit umum untuk mengobati masyarakat luas. Di rumah sakit tersebut ada dua ruangan yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Dalam setiap ruangan ada beberapa kamar yang dikhususkan untuk setiap jenis penyakit. Ada untuk penyakit dalam, mata, luka-luka, patah dan bedah tulang, serta penyakit-penyakit kejiwaan. Kamar untuk penyakit dalam pun terbagi menjadi beberapa ruangan lagi. Ada untuk demam, diare, dan lain-lain.

Di setiap ruangan ada dokter-dokternya berikut seorang ketua. Jadi, ada ketua untuk penyakit dalam, bedah, dan mata. Selanjutnya, ketua-ketua dokter bagian ini dipimpin oleh seorang ketua umum yang disebut sebagai “sa’ur.”

Para dokter bekerja dengan bergilir. Setiap dokter mempunyai jadwal kerja masing-masing. Dalam setiap rumah sakit ada beberapa perawat dan para asistennya, baik laki-laki ataupun perempuan. Mereka mendapat gaji yang sangat banyak.

Di setiap rumah sakit ada sekolah kedokteran. Di dalam rumah sakit ada ruangan besar untuk seminar. Dalam ruangan tersebut duduk dokter kawakan dan dokter para murid. Di samping mereka terdapat alat-alat praktik dan buku. Setelah melaksanakan tugas mengobati para pasien, murid-murid tersebut duduk menghadap guru-guru mereka. Kemudian terjadilah diskusi dan pembacaan buku kedokteran antara guru dan murid. Guru tersebut sering menemani muridnya ke dalam rumah sakit untuk menyampaikan pelajaran praktik kepada pasien. Pada saat itu tidak ada dokter pun yang diizinkan untuk mengobati kecuali telah menjalankan ujian di depan dokter-dokter besar negara.

Di setiap rumah sakit selalu ada perpustakaan besar yang dipenuhi oleh buku-buku kedokteran, serta hal-hal yang dibutuhkan oleh para dokter dan murid-murid mereka. Sebagai contoh, rumah sakit Ibnu Thulun yang ada di Kairo saja, terdapat lebih seratus ribu jilid buku yang terdiri dari berbagai cabang ilmu.

Masuk ke rumah sakit pun digratiskan untuk semua orang. Tidak dibedakan antara orang kaya-miskin, jauh-dekat, dan berilmu-tidak berilmu. Pertama-tama, pasien diperiksa di ruangan luar. Jika da pasien yang terkena penyakit ringan, dia diberi resep dan dapat mengambil obatnya di apotek rumah sakit. Dan, jika ada pasien yang terkena penyakit berat, namanya ditulis serta langsung masuk ke kamar mandi. Di sana, bajunya dilepas dan disimpan di tempat khusus. Lalu, dis ditempatkan di kamar pasien dan diberi ranjang dengan kualitas terbaik. Setelah itu, oleh dokter dia diberi obat dan makanan yang sesuai dengan penyakitnya.

Pada saat itu, makanan pasien terdiri dari daging kambing, sapi, burung, dan ayam. Pasien yang telah sembuh diberi roti dan ayam dalam satu kali makan. Lalu, dia dipindahkan ke dalam ruangan khusus yang disediakan bagi pasien-pasien yang telah sembuh. Dan jika benar-benar telah sembuh, dia diberi baju baru dan sejumlah uang yang bisa mencukupinya untuk bekerja.
Ketika itu, kamar-kamar rumah sakit sangat bersih. Di dalamnya ada aliran air, dan peralatannya pun terdiri dari kualitas terbaik. Dalam setiap rumah sakit ada beberapa petugas kebersihan dan pemeriksa keuangan. Para khalifah dan pejabat tinggi negara sering menengok para pasien untuk melihat keadaan mereka.

Heldiana
(Disadur dari buku Distorsi Sejarah Islam, karya DR. Yusuf Al-Qaradhawi)