SMA Islam Terpadu Wahdah Islamiyah Makassar : adalah Sekolah Menengah Atas, bernaung di bawah Dinas Pendidikan Nasional yang memadukan sistem kurikulum nasional dan kurikulum lokal berbasis agama Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Hadist dengan pemahaman salaf serta memiliki keunggulan dengan memisahkan lokasi belajar untuk putra dan putri. Dengan meraih predikat akreditasi "A" dari Badan Akreditasi Sekolah dan Madrasah pada tahun 2016 akan terus berinovasi dalam membina dan mendidik siswa-siswi agar menjadi generasi muda yang berahklak mulia dan berprestasi

Sekolah Putra : Jl. Manggala Raya, kompleks Bambu-bambu, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90234
Sekolah Putri : Jl. Antang Raya No.48, Antang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90234
PENGUMUMAN KELULUSAN 2019 SMAIT WAHDAH ISLAMIYAH

02 April 2018

Menjaga Bahasa Indonesia

Pada suatu kesempatan, Dr. Muhammah Saleh, M.Pd., Kajur BSI FBS UNM, menyampaikan kerisauannya terkait keringnya bahasa Indonesia dari nilai-nilai religi. Belajar bahasa Indonesia hari ini, seperti fonologi, sintaksis, semantik, dan tataran lainnya rasa-rasanya hanya berlalu begitu saja, tidak menambah cita rasa religi, tidak menambah iman. Beliau juga sempat menggagas konsep linguistik religi sebagai upaya menjawab masalah tersebut.

Kerisauan itu ternyata memang sangat beralasan. Arif Wibowo, Direktur Pusat Studi Peradaban Islam Solo, menjelaskan hal ini dalam artikelnya dalam Jurnal Islamia edisi 23 Oktober 2013. Beliau menyitir kisah Profesor Eggens, seorang profesor Belanda, yang saat itu baru saja datang ke Indonesia lalu mengeluarkan pernyataan bahwa bahasa Melayu adalah bahasa primitif yang tidak mungkin menjadi bahasa ilmu. Pernyataan ini mendapat reaksi tegas dari mahasiswa Indonesia waktu itu. Bahasa Melayu adalah bahasa yang sangat dibenci oleh Belanda kala itu karena merupakan bahasa umat Islam, tegas Wibowo.
Dalam konteks Indonesia, keterkaitan antara Islam dan Melayu begitu kuat karena bahasa Melayu telah mendapat pengaruh Islam (islamisasi bahasa). Bahasa Melayu berhasil memainkan peran sentral dalam penyatuan Nusantara dan proses islamisasinya. Bahasa Melayu ibarat jembatan islamisasi tersebut. Pemerintah Kolonial Belanda sangat menyadari akan bahaya bahasa Melayu. Karena itu, sejak kedatangan mereka, berbagai upaya dilakukan agar bahasa ini kelak tidak menjadi penghalang misi pemerintah kolonial. Lebih jauh, James T. Collins menyatakan bahwa bahasa Melayu baku adalah salah satu upaya imperialis dalam membangun negara bangsa. Bahasa Melayu dipoles dan diterbitkan dalam buku teks untuk diajarkan dalam sistem persekolahan nasional. Selama bertahun-tahun upaya deislamisasi ini berlangsung yang diwujudkan dalam bentuk tata bahasa Melayu, kamus, dan sistem ejaan baku. Upaya ini bahkan sampai pada perencanaan dan pembinaan bahasa Melayu sejak abad ke-19 hingga tengah pertama abad ke-20 (Kabul Astuti, “Melayu dan Islam Prakolonialisme”, Jurnal Islamia, 24 Oktober 2013). Upaya sistemik ini bisa dikatakan berhasil melunturkan kebanggaan bangsa Melayu-Indonesia terhadap bahasanya.

Pengembangan Bahasa

Hari ini, ribuan karya ilmiah kebahasaan telah ditulis. Berbagai lokakarya, seminar, kongres, hingga simposium baik nasional maupun internasional telah digelar dalam rangka pengembangan bahasa Indonesia. Perayaan dalam rangka bulan bahasa digelar setiap tahun—28 Oktober—untuk memodernkan bahasa Indonesa. Namun, sangat disayangkan, disadari atau tidak, bahasa Indonesia kini justru bagai berevolusi menuju sekularisasi bahasa, deislamisasi bahasa Indonesia.
Dalam sebuah kajian, Dr. Adian Husaini, M.A., Peneliti INSIST, menyatakan “Mengubah tulisan Arab (aksara Jawi) menjadi tulisan Latin itu memang kecelakaan”. Lebih lanjut dikatakan bahwa tidak ada bangsa di dunia ini yang mau mengubah tulisannya (aksaranya). Tulisan sebagai pembawa konsep makna bahasa sangat berkaitan erat dengan pandangan alam (woldview) pemakai bahasa tersebut. Karena itu, penggantian tulisan ini dapat memutus generasi selanjutnya dari rantai sejarah, rantai pandangan hidup Islam yang utuh di Indonesia. Jadilah hari ini banyak orang Indonesia yang gegar intelektual karena terputus dari satu unsur terpenting peradaban Islam Indonesia (Melayu), yaitu aksara Arab Melayu.
Pada ranah praktis, pengaruh deislamisasi ini sangat terasa. Umpamanya, mungkin ada yang bingung akan pelafalan dan penulisan kata Allah, Alquran, shalat, adzan, doa, dan dai, karena dalam sistem ejaan baku tidak ada konsep ‘ain, shod, misalnya. Kita menenal kata murid yang merupakan derivasi dari kata Arab: araada, yuriidu, iraadatan, muriidan yang berarti ‘orang yang berkehendak’, orang yang memiliki motivasi tinggi. Setelahnya muncullah kata siswa yang tidak jelas akar filosofinya. Pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa Indonesia juga mengalami penurunan pascakemerdekaan (Kevin Fogg dalam Kabul Astuti). Padahal, sistem bahasa itu membawa konsep Islamisasi, pandangan alam Islam.
Mengapa pengaruh Islam (bahasa Arab) dahulu begitu kuat di alam Melayu? Kita mengenal nama-nama hari dalam sepekan: Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu. Penjajahlah yang mengacaukan sistem itu dengan mengganti Ahad dengan Minggu (Adian Husaini, “Bahasa Melayu dan Penyatuan Nusantara”, Jurnal Islamia, 24 Oktober 2013). hingga hal-hal yang begitu prinsip dalam kehidupan? Kita pun sangat akrab dengan kata adil, adab, musyawarah, majelis, dan banyak lagi. Pertanyaannya: apakah sebelumnya manusia Nusantara tidak mengenal konsep adil, adab, musyawarah, majelis? Bahasa kita juga sangat rentan terhadap efek globalisasi. Banjir istilah dari Barat hari ini adalah efek dari lemahnya konsep bahasa Indonesia. Bahasa kita berjalan terus dalam arus sejarah kehidupan, tanpa tahu jalan pulang. Standar bahasa Indonesia hari ini, tidak sama dengan 20 tahun lalu, dan juga sangat mungkin berbeda dengan bahasa Indonesia 20 tahun mendatang. Berbeda, dengan bahasa Arab yang terus akan bertahan hingga hari penghabisan karena akan ada Alquran dan hadis yang menjadi rumahnya, standar bakunya, hukum asalnya.
Dengan ini, kaum muslimin, siapa pun kita harus bertindak cerdas. Sepatutnya upaya pencegahan dan pemulihan bahasa segera digulirkan. Kebijakan bahasa yang mengarah pada deislamisasi bahasa harus dihentikan, sebagaimana perencanaan bahasa (language planning) dalam kaitannya dengan kebijakan pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Panyuluh bahasa hakikatnya juga adalah seorang muballigh yang mengajarkan nama-nama kepada masyarakat sebagaimana juga Allah Subahanahu wa Taala yang mengajarkan nama-nama kepada Adam sehingga dia menjadi penduduk termulia di langit waktu itu. Menjaga bahasa Indonesia berarti juga menjaga kelangsungan peradaban Islam Indonesia.

Oleh: Ruslan, S.Pd.

Guru Bahasa Indonesia