AD (728x90)

07 Januari 2018

Peran Sentral Guru

Berkarakter dan Berprestasi
Pendidikan merupakan topik pembicaraan yang tidak pernah tuntas. Usianya sepanjang peradaban manusia itu sendiri. Posisi pendidikan yang demikian penting ini karena manusia sangat membutuhkannya untuk meningkatkan kualitas dirinya. 
Berbagai cara telah diupayakan untuk mencapai kualitas tersebut. Di Indonesia sendiri, di awal tahun 2013, ramai dibicarakan mengenai produk baru yang ditawarkan dan tentunya diidealkan. Produk baru tersebut adalah Kurikulum 2013. Dengan berbagai alasan, akhirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sebenarnya juga baru berusia seumur jagung itu digantikan oleh kurikulum baru tersebut. Di sisi lain, pengajar/guru terus ditingkatkan kompetensinya melalui berbagai pelatihan, misalnya program sertifikasi guru. Semuanya demi membentuk guru profesional. Namun, apa yang terjadi hari ini berupa kemerosotan kualitas keluaran pendidikan (sekolah) adalah bukti nyata betapa pembenahan di sana-sini itu masih jauh dari kata ideal.
Sebagai contoh, Majalah Wanita Kartini pernah membeberkan hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang dilakukan terhadap 4.500 remaja di dua belas kota besar di Indonesia. Hasilnya sangat memprihatinkan! Sekitar 93,7% remaja  ditengarai pernah berciuman, petting, dan oral. Temuan lain, sekitar 62% remaja di Indonesia pernah berhubungan intim. Tidak kalah mencengangkan! Kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja yang dibeberkan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) yang ternyata juga menanjak. Hebatnya, siswa SMP pun telah mengoplos narkoba (www.arajang.com). Tahun 2017, DKI Jakarta dan Jawa Timur menjadi dua wilayah terparah konsumsi narkoba di kalangan remaja. Sekitar 23,7% atau 238.680 dari total pengguna narkotika adalah remaja di Jawa Timur. Belakangan juga marak penyalahgunaan paracetamol, caffein, dan carisoprodal (PCC) yang bahkan berujung pada kematian. Tawuran antarpelajar, antarmahasiswa, atau antarwarga sekalipun, tidak kalah maraknya. Sekarang di tahun ini, sebuah tanda tanya besar masih menggelayut: bagaimana nasib pendidikan di negeri ini ke depan?

Guru Peradaban
            Konon, setelah Perang Dunia II, Kaisar Jepang pada waktu itu bertanya “Berapa jumlah guru yang masih hidup?” Pertanyaan ini adalah bukti kesadaran yang mendalam bahwa guru memegang peran penting untuk bangkit dan jayanya sebuah bangsa. Artinya, jika kita menginginkan bangsa yang kuat dari segala aspek—fisikal, kognitif, afektif, dan psikomotorik, dan spiritual—unsur guru sebagai teladan harus dinomorsatukan.
Guru harus bisa menjadi teladan dari segala sisi. Idealnya, guru itu cerdas, berakhlak, dan terampil. Seorang guru semestinya menguasai materi yang diajarkannya. Finlandia yang pernah didaulat memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia—jauh meninggalkan Amerika Serikat di urutan ke-17—membuat kriteria yang ketat untuk menjadi guru.  Seseorang harus berada dalam 10 besar lulusan terbaik universitas jika ingin  menjadi guru. Guru-guru di sana betul-betul berdedikasi tinggi walaupun dengan gaji yang terbilang biasa. Bandingkan dengan Indonesia. Di negara kita, semua orang bisa menjagi guru, asalkan bertitel sarjana pendidikan. Urusan kompetensi, akhlak, keterampilan, itu soal lain. Apakah pada saat ujian di kampus sang calon guru itu menyontek atau kerja mandiri? Orisinilkah skripsinya? Bukan menjadi soal! Bahkan sudah menjadi stereotip, untuk menjadi pegawai negeri sipil (guru), harus dengan uang pelicin.
Sejarah mencatat prestasi emas yang diukir oleh seorang Muhammad sallallahu alaihi wasallam, sang mahaguru peradaban, dalam mengubah bangsa Arab Jahiliah menjadi bangsa berperadaban tinggi dan disegani bukan hanya di wilayah Jazirah Arab, tetapi juga oleh bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu maju. Bangsa Arab terkenal menyembah berhala, berpecah belah, “hobi” mengubur hidup-hidup bayi perempuan, berjudi, mengundi nasib, riba, minum khamar, kasar, tidak menghargai perempuan sedikit pun dan lain-lain  Rasulullah berhasil mengubah kegelapan itu menjadi matahari yang bersinar hanya sekitar 23 tahun, hanya butuh satu generasi. Rasululllah mendapatkan satu gelar kehormatan dari masyarakatnya, al amin artinya dapat dipercaya, gelar yang tidak pernah diberikan oleh universitas mana pun di dunia. Inilah keteladanan. Bukti nyata betapa peran guru dengan karakter keteladanan yang kuat sangat dibutuhkan.

Kitalah, Para Guru!
Segera membenahi guru adalah kunci dari segala masalah pendidikan kita.  Mengapa? Gurulah yang mengajar; guru yang memegang kendali kelas; guru yang diteladani; guru yang menyampaikan ilmu, dan karena gurulah yang bertanggung jawab atas baik-buruknya suatu bangsa, suatu peradaban.
Kita patut mengapresiasi inovasi dan berbagai dorongan yang terus diupayakan oleh kementerian pendidikan, seperti praktik MOS di sekolah menjadi lebih edukatif dengan adanya arahan dari kementerian. Juga adanya penguatan komitmen pendidikan antara sekolah, orang tua siswa dan pihak terkait. Penguatan pembentukan karakter positif di seklah melalui pembiasaan-pembiasaan baik, juga dengan menempelkan slogan “aku benci korupsi” di baju siswa. Semua ini adalah upaya positif yang perlu didukung untuk perbaikan hasil-hasil pendidikan ke depan.
Namun, hal ini akan seperti menegakkan benang basah jika kita sebagai guru tidak mengambil peran sebagai pengajar sekaligus pendidik yang menanamkan nilai-nilai akhlak. Jika Indonesia serius untuk mewujudkan manusia yang seutuhnya, guru adalah bagian pertama dan utama untuk dibenahi, diperhatikan, dan ditingkatkan kualitasnya. Kurikulum berikut berbagai inovasi dalam pendidikan memang penting, tetapi perlu diingat, sebaik apa pun sistemnya, tidak akan memberi pengaruh signifikan terhadap perbaikan bangsa ini, manakala guru yang mengaplikasikannya tidak dapat dijadikan teladan. Gurulah tokoh sentral dalam membentuk peradaban.

Peran Sentral Guru
Oleh: Ruslan 

Galery Kegiatan Sekolah

© 2019 Website SMA Islam Terpadu Wahdah Islamiyah. All rights resevered. Designed by Templateism