AD (728x90)

01 Desember 2017

Belajar Sepanjang Hidup

Berkarakter dan Berprestasi
Tabungan itu akhirnya dibuka oleh sang istri setelah beberapa bulan dikumpulkan dengan kerja keras dan kesabaran. Betul-betul dengan kerja keras dan kesabaran! Uang itu dipakai untuk membuat arem-arem—makanan tradisional Jawa—untuk bekal perjalanan sang suami. Setelah sampai di tujuan dan mengikuti acara, tibalah saatnya istirahat. Di saat istirahat itulah, kisah menakjubkan ini terbongkar, tersebar. 

Tabungan yang diikhtiarkan selama beberapa bulan itu ternyata hanya berisi Rp10.000. Nominal yang begitu sepele di tangan orang lain, mungkin termasuk kita. Uang itu pun dijadikan bekal untuk perjalanan sang suami ke suatu acara. Juga hanya dengan selembar kain yang melekat di badannya. Ibarat pepatah, kain basah kering di pinggang.

Acara apa? Sepertinya sangat penting! Uang itu hanya cukup untuk bekal: beberapa bungkus arem-arem. Praktis, hanya ada satu pilihan mendatangi acara itu: jalan kaki. Kalau jalan kaki dari Tidung ke Parangtambung atau dari Parangtambung ke Abdesir, masih bisalah, tapi ini lain. Jaraknya puluhan kilometer!

Berapa jam perjalanan untuk sampai ke tempat itu? Butuh 72 jam alias tiga hari tiga malam, tanpa kendaraan, dengan selembar kain, dan beberapa bungkus arem-arem. Hanya untuk satu tujuan: menghadiri kajian ilmu, belajar agama. Allahuakbar!

Pentingkah Belajar?

Kisah nyata itu menyisakan satu pertanyaan: apa yang mendorong sang istri mati-matian menabung setiap hari? Mengapa sang suami begitu ngotot dalam keterbatasan mereka, padahal di ma’had-nya dulu ia termasuk murid terpandai? Kita berasumsi saja dulu: pasutri tersebut menyadari pentingnya ilmu, pentingnya belajar.

“Pentingkah belajar Islam?” Saudaraku, seandainya pertanyaan ini ditujukan kepada kita, apa yang akan kita katakan? Akankah kita mengatakan “Untuk apa susah payah belajar, tanpa itu tetap bisa hidup juga, bisa kaya, dan bahagia” atau “Belajar tidak belajar, tetap tidak mengerti” mungkin juga “Masa muda itu harus dinikmati; jangan terlalu pusing dengan pelajaran” lain lagi “Tidak usah belajar, adaji pelampung saya buat”.

Saudaraku, seorang ulama besar, Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu taala pernah menyatakan bahwa manusia sesungguhnya lebih butuh ilmu daripada makanan karena makanan hanya dibutuhkan dua atau tiga kali sehari, sedangkan ilmu dibutuhkan setiap waktu, pada setiap keadaan. Dari sini dapat diketahui bahwa ilmu menempati posisi yang begitu penting. Namun, ilmu tidak mudah didapat. Ilmu hanya akan diperoleh lewat proses belajar. Bukan pula asal belajar, tetapi belajar yang penuh dengan kesungguhan. Yahya bin Abi Katsir rahimahullahu taala pun menegaskan bahwa ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan (santai/tidak bersungguh-sungguh). Seorang Ulama, Ibnul Jauzi bahkan pernah menyatakan, “Seandainya derajat kenabian bisa diperoleh hanya dengan belajar sungguh-sungguh maka sangat bodohlah orang yang tidak mau menjadi nabi.” Saudaraku, ini bukan soal umur, harta, atau gelar. Mari bertanya pada pribadi kita, “Sudahkan kita bersungguh-sungguh untuk terus belajar Islam?

Mozaik Belajar

Setiap perjalanan pasti memilik tujuan. Begitu pula dengan belajar. Bersungguh-sungghnya seseorang dalam belajar itu pasti dengan tujuan dan harapan. Nah, untuk mencapai tujuan itu, tidak cukup hanya dengan semangat belajar yang menggebu. Penggunaan waktu sebijak mungkin menjadi syarat prestasi belajar.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan proses dan hasil belajar. Berbagai tips, trik jitu, kiat, strategi, cara ampuh, atau apalah namanya yang dimaksudkan untuk mengefektifkan pembelajaran telah ditulis berlembar-lembar, dijilid, dibukukan, atau sekadar di-posting, tapi itu semua bisa seperti menegakkan benang basah ‘sia-sia belaka’ jika tanpa keikhlasan, kemauan belajar, dan kesabaran.

Saudaraku, hal pertama dan utama yang wajib dipertegas ketika ingin belajar (juga dalam segala aktivitas lain) adalah niat yang baik, yang ikhlas. Untuk apa kita belajar? Apakah hanya untuk mendapat nilai A, agar mudah mencari kerja, mencari pujian, atau untuk mendapat beasiswa? Rasulullah mengingatkan dalam sebuah hadis bahwa segala sesuatu itu tergantung pada niat. Siapa pun yang meniatkan kebaikan akan mendapatkan kebaikan, sebaliknya, yang meniatkan keburukan akan mendapatkannya pula. Jika kita menanam padi, alang-alang pun akan tumbuh, tetapi padi tidak pernah tumbuh jika yang ditabur adalah benih alang-alang. Niat untuk mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa Taala dalam belajar insya Allah akan menumbuhkan alang-alang: nilai A, pujian, beasiswa, dan lain-lain. Niat pula yang membedakan budaya dengan amalan. Makan dengan tangan kanan adalah hal biasa dan telah membudaya, tetapi jika diniatkan mengikuti sunnah Rasulullah, akan berberkah dan dinilai pahala di sisi Allah Taala.

Selanjutnya, kemauan belajar. Niat yang benar harus dipadukan dengan kemauan belajar yang kuat. Jika ada masalah, kita bisa bertanya pada teman, guru, dosen, ustaz, Prof. Google, atau silaturahim ke perpustakaan.

Nah, kalau yang dua (niat dan kemauan belajar) itu sudah ada, perkuat dengan kesabaran. Jangan patah semangat. Jika gagal coba lagi. Pantang menyerah! Thomas Alfa Edison, penemu dengan 1.093 hak paten atas namanya pernah mengatakan “Saya tidak patah semangat karena setiap kesalahan adalah satu langkah maju”. Kegagalannya menemukan bola lampu pijar sebanyak 9.955 tidak membuatknya berhenti. Pada akhirnya, pada percoaan yang ke-9.956, ia pun menemukan bola lampu yang menyala. Tentu akan lain ceritanya jika Edison menyerah pada percobaan ke-9.955.

Jalan Termudah ke Surga

Saudaraku, dalam pandangan agama kita, ilmu dan belajar atau menuntut ilmu memiliki kedudukan yang istimewa. Rasulullah mengabarkan “Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu agama (Islam), pasti Allah membuat mudah baginya jalan menuju surga” (HR Muslim). Mengapa demikian? Yah, ilmu yang ia pelajari tersebut akan membantunya membedakan yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, yang halal dan yang haram, yang dibolehkan dan yang dilarang dan sebagainya, sehingga dengan itu, atas petunjuk ilmu itu dan pertolongan Allah Subhanahu wa Taala, pemiliknya akan mudah memperbanyak amalnya baik dan menghindari dosa.

Sebagai seorang muslim, tentu kita semua ingin masuk surga. Hanya di sanalah seorang muslim bisa memandang wajah Tuhannya, wajah yang selama bertahun-tahun disembahsujudi di dunia, wajah tempatnya berdoa siang malam, wajah yang telah memberinya rezeki, wajah yang telah menganugerahkan Islam kepadanya. Di sinilah puncak kebahagiaan seorang muslim. Sebab itulah, mari berlomba dalam kebaikan ini, berlomba menutut ilmu dengan mengharapkaan rahmatnya, bersungguh-sungguh dalam belajar, dan bersabar atas segala tantangan yang datang. Saudaraku, misi seorang pelajar hendaknya adalah meraih surga Allah lewat menuntut ilmu. Tidak hanya menggantungkan cita-citanya di bawah kolong langit, tetapi lebih dari itu cita-citanya menembus langit ketujuh, surga Allah. Mungkin ini pula yang memotivasi pasangan suami istri tersebut sehingga rela bersusah payah dengan penuh kesabaran menabung Rp100 setiap harinya demi menghadiri taman ilmu yang merupakan jalan-jalan termudah ke Surga.

Belajar Sepanjang Hidup 
Oleh: Ruslan 
Guru Bahasa Indonesia SMA IT Wahdah Islamiyah Makassar 

Galery Kegiatan Sekolah

© 2019 Website SMA Islam Terpadu Wahdah Islamiyah. All rights resevered. Designed by Templateism